Posted on : 09-06-2009 | By : | In : kisah
Keluarga Pemilik Kebun
Pada zaman dahulu ada orang shaleh yang memiliki beberapa orang anak. Orangtua shaleh ini memiliki kebun indah yang dipenuhi beraneka ragam pohon buah-buahan dengan saluran air jernih yang mengairinya. Tidak heran jika pepohonan tersebut menghasilkan bermacam-macam buah-buahan yang lezat.
Orangtua ini menyisihkan sebagian hasilnya untuk diberikan kepada fakir miskin yang berdatangan ke kebunnya pada hari-hari panen. Dia selalu memberi mereka apa yang Allah anugerahkan kepadanya dengan senang hati, karena dia sadar bahwa perbuatannya mendatangkan ridho Allah dan membahagiakan hati mereka yang menderita.
Semua anak orangtua shaleh ini (kecuali satu anak) tidak menyukai perbuatan bapak mereka dengan alasan pemborosan, dan infaq yang tidak pada tempatnya. Maka pada saat sang bapak yang sudah tua ini meninggal, mereka memutuskan untuk menimbun hasil kebun agar harta mereka bertambah banyak. Mereka sekeluarga merasa senang, sedang orang-orang fakir itu kembali seperti semula; tidak memiliki apa-apa.
Salah seorang anak pemilik kebun berkata: “Kebun ini sekarang benar-benar sudah menjadi milik kita. Tentunya kita akan memperoleh panen yang lebih banyak dari sebelumnya.“
“Dan kita tidak akan membiarkan orang-orang fakir itu mendekati hasil panen kita,” imbuh saudara kedua.
“Setelah ini, orang-orang fakir itu tidak akan punya hasrat lagi terhadap hasil panen kita,” tegas saudara ketiga.
Sedangkan saudara yang paling bijak akalnya, dan salut terhadap kedermawanan bapaknya mengatakan: “Saya mengingatkan saudaraku sekalian agar kalian tetap melangkah pada jalan yang pernah bapak kita tempuh. Allah I telah menjadikan di dalam harta kita ini ada hak bagi orang-orang fakir miskin.”
Saudara tertua membantah: “Ini kan harta kita sendiri! Tak seorangpun memiliki hak di dalamnya.”
”Tetapi harta ini milik Allah yang Dia titipkan pada kita dan orang fakir mempunyai bagian di dalamnya. Itulah pesan bapak kita.” Jawab adik yang bijak.
Perdebatan bertambah sengit dan pembicaraan pun tak menemukan titik temu. Pendapat saudara yang paling bijak akalnya mengungguli pendapat yang lainnya. Saudara-saudaranya yang lain membuat kesepakatan antara mereka untuk datang ke kebun yang hampir panen itu lebih awal, dan segera membawa semua hasil panen buah dari kebun mereka sebelum fakir miskin bangun dan datang untuk mengambil hak mereka sebagaimana biasanya pada masa bapaknya.
Saudara-saudaranya yang kikir itu tidur dengan mimpi-mimpi hari esok yang penuh dengan kekayaan yang melimpah. Mereka bangun saat subuh akan tiba dan bergegas menuju kebun. Saat mereka tiba, mereka berdiri sambil kebingungan menyaksikan kebun menjadi padang datar yang terbakar habis.
“Tidak….tidak…. Ini bukan kebun kita”, kata saudara tertua.
“Kebun kita bagaikan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedangkan ini sudah musnah,” imbuh yang lain.
“Itu kan kebun kalian…! Allah telah mengirim malapetaka yang menjadikannya seperti yang kalian lihat saat ini, karena kalian tidak melakukan kebaikan yang bapak kalian lakukan, tidak ridho terhadap apa yang ia berikan, dan karena kalian tidak memberikan hak orang fakir yang telah Allah tetapkan untuk mereka pada kebun kalian. Sungguh aku telah mengingatkan kalian, tetapi kalian tidak suka nasehat,” tandas saudara yang paling bijak akalnya.
Saudara-saudaranya menyesali apa yang telah mereka rencanakan terhadap orang-orang fakir, tapi nasi sudah menjadi bubur.*
Allah I berfirman dalam surah al-Qolam: 29-32 yang artinya :
Artinya: “Mereka mengucapkan: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang lain seraya cela-mencela.
Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.” Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita
